Senin, 26 Oktober 2009

10 Selebritis Berbibir Terseksi

Penelitian membuktikan bahwa semakin besar hormon Estrogen yang dimiliki oleh seorang wanita, semakin padat dan bagus pula bentuk bibir wanita tersebut. Penelitian juga mendapati bahwa hormon esterogen mempengaruhi jiwa agresif seorang wanita,. nah lo! so, di bawah ini ada 10 wanita selebritis papan atas dunia yang udah dipilih berdasarkan "Greatest Kiss Challenge" dari Netflix yang emang terkenal dengan bibirnya yang super sexy. wah... kaburrr........hehehehehe



#10 Nina Moric




#9 Jessica Alba




#8 Eva Mendes




#7 Christina Aguilera




#6 Scarlett Johansson




#5 Rachel Bilson




#4 Rihanna




#3 Jessica Biel




#2 Megan Fox




#1 Angelina Jolie



AddThis
Planets

51 Hal Tentang Barack Obama

Obama

Barack Obama



Lima puluh hal tentang Barack Obama yang ditulis oleh Jon Swaine, wartawan Telegraph :

1. Gemar mengkoleksi komik "Spider-Man" dan "Conan the Barbarian"

2. Dikenal sebagai "O'Bomber" saat SMU karena jago basket

3. Namanya berarti "orang yang diberkati" dalam bahasa Swahili

4. Hidangan favoritnya adalah linguini udang buatan sang istri, Michelle.

5. Meraih Grammy tahun 2006 untuk kategori versi audio bukunya, "Dreams From My Father"

6. Bertangan Kidal, dia adalah presiden kidal ke-6 pasca perang

7. Telah membaca semua buku Harry Potter

8. Punya satu set sarung tinju merah bertanda tangan Muhammad Ali

9. Saat remaja bekerja di toko eskrim Baskin-Robbins tapi sekarang tidak bisa makan eskrim

10.Kudapan kesukaannya adalah batang coklat-kacang penuh protein

11. Mampu berbahasa Spanyol

12. Saat kampanye tidak mau nonton CNN dan memilih saluran olah raga

13. Minuman kesukaannya adalah "black forest berry iced tea"

14. Berjanji pada Michelle akan berhenti merokok sebelum kampanye

15. Dikenal sebagai Barry hingga saat di universitas, dia diminta menuliskan nama panjangnya

16. Buku favoritnya adalah Moby-Dick karya Herman Melville

17. Berkunjung ke Wokingham, Berks, tahun 1996 untuk menghadiri pesta yang diselenggarakan tunangan saudara perempuan satu ayah, tapi dia pergi saat penari telanjang tiba.

18. Mejanya di kantor Senat pernah digunakan Robert Kennedy

19. Tahun lalu bersama istrinya, Michelle, meraup 4.2 juta dolar (lebih dari Rp42 miliar) , sebagian besar adalah hasil penjualan bukunya.

20. Film kesukaannya adalah Casablanca dan One Flew Over the Cuckoo's Nest

21. Dia menyimpan patung kecil Bunda Maria dan kalung milik seorang tentara di Irak

22. Melamar untuk jadi model kalender kampus saat di Harvard tapi ditolak oleh panitia yang semuanya perempuan.

23. Musik kegemarannya antara lain Miles Davis, Bob Dylan, Bach dan The Fugees

24. Pertama kali nonton bioskop dengan Michelle adalah film "Do The Right Thing" karya Spike Lee

25. Senang bermain scrabble dan poker

26. Tidak minum kopi dan jarang minum alkohol

27. Kalau tidak jadi politisi kemungkinan jadi arsitek

28. Saat remaja sempat terlibat mariyuana dan kokain

29. Anak perempuannya bercita-cita sekolah di Yale lalu jadi aktris (Malia, 10) . Anaknya yang lain, Sasha (7) ingin jadi penyanyi dan penari.

30. Tidak suka tren anak muda yang memakai celana panjang kedodoran

31. Baru melunasi cicilan biaya kuliahnya empat tahun lalu setelah menerbitkan buku

32. Rumahnya di Chicago punya empat tungku perapian

33. Orang tua baptis anaknya, Malia, adalah Santita, anak tokoh politik berkulit hitam, Jesse Jackson

34. Mengaku punya kebiasaan paling jelek yaitu selalu mencek BlackBerry-nya.

35. Menggunakan laptop Apple Mac

36. Menggunakan mobil Ford Escape Hybrid setelah meninggalkan Chrysler 300 yang boros BBM

37. Mengenakan stelan Hart Schaffner Marx seharga 1500 dolar

38. Punya empat pasang sepatu hitam ukuran 11 yang sama persis

39. Pangkas rambut sepekan sekali di Chicago oleh pencukur Zariff yang ongkosnya 21 dolar

40. Fiksi kesukaannya di televisi adalah Mash dan The Wire

41. Nama sandinya di Secret Service (pengawal presiden) adalah "Renegade"

42. Julukan dari mendiang neneknya adalah "Bar"

43. Punya rencana membuat lapangan basket di Gedung Putih

44. Seniman favoritnya adalah Pablo Picasso

45. Pintar memasuk chilli

46. Di mejanya ada ukiran kayu berupa tangan memegang telur. Lambang itu di Kenya berarti hidup adalah rapuh

47. Mendiang ayahnya adalah ekonom senior untuk pemerintah Kenya

48. Kuat mengangkat barbel seberat 200lbs.

49. Saat di Indonesia banyak temannya adalah "street urchins" (anak-anak yang lebih banyak di luar rumah).

50. Ketika tinggal di Indonesia memelihara monyet bernama Tata

51. Pernah makan daging anjing, ular, dan belalang bakar saat di Indonesia.

(Sumber : www.rileks.com)
AddThis
Planets

Senin, 19 Oktober 2009

Menggagas Kabinet Ideal 2009-2014

Menegakkan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang dipilih Indonesia dalam kancah dunia pemerintahan memang tidak mudah. Indonesia telah 64  tahun merdeka, telah berganti enam presiden. Akan tetapi, sejatinya Indonesia belum mampu berdiri dengan tegak. Salah satu penyebab dari turun-naiknya dunia pemerintahan Indonesia adalah Indonesia belum mampu untuk membentuk sebuah kabinet yang ideal. Ketika kita berbicara kabinet, maka yang ada dalam benak kita adalah formatur atau formasi orang-orang yang akan mengisi jabatan tertentu dalam periode pemerintahan tertentu dengan agenda-agenda kerja tertentu untuk menyejahterahkan rakyatnya. Nampaknya, Indonesia harus banyak lagi belajar dari pengalaman masa lalu. Belajar dari sejarah dan tidak mengulanginya lagi.

Sebuah kabinet dikatakan ideal jika:

Pertama,
dalam suatu pemerintahan itu ada sistem yang saling mengontrol satu sama lain sehingga akan mengurangi dampak  dari penyimpangan kewenangan/kekuasaan para pejabat. Saling mengontrol akan terwujud ketika komposisi yang proporsional ada dalam suatu kabinet. Antara yang pro dan oposisi menjalankan tugasnya degan baik. oposisi berfungsi sebagai pengontrol suatu pemerintahan. Oposisi tidak harus berbeda atau sekedar mencari suatu perbedaan. Demikian halnya dengan yang pro tidak harus selalu sama dan saling mendukung suatu pemerintahan, apalagi jika pemerintahan itu tidak beres. Maka diperlukaan political control yang menjalankan fungsinya dengan baik itulah yang akan membuat suatu kabenet ideal.

Kedua,
Kabinet dikatakan ideal jika yang duduk dalam kabinet itu adalah orang-orang yang bersih. Wakil rakyat yang benar-benar  wakil rakyat, bukan wakil pribadi, bukan wakil keluarga, ataupun wakil dari golongan tertentu.  Akan tetapi, wakil rakyat yang akan membela kepentingan rakyat. Untuk masalah ini Indonesia masih harus menata ulang pemerintahan. Karena diakui atau tidak, banyak dari wakil rakyat yang membela tapi masih dalam taraf keluarga. Keinginan “balik modal” dan banyaknya “proyek”  mungkin demikian yang sering menyebabkan wakil rakyat lupa bahwa mereka adalah  public server. Sehingga seringkali terjadi penyalahgunaan wewenang, dampak selanjutnya adalah praktik korupsi dimana-mana. Oleh karena itu, ketika suatu kabinet telah diisi oleh orang-orang yang bersih maka kabinet itupun akan bersih pula.

Ketiga, Kabinet dikatakan ideal jika jabatan dalam itu diisi oleh orang-orang professional. Ketika para pejabat itu professional maka akan menghasilkan pemerintahan yang professional. Setiap kebijakan yang diambil atas pertimbangan kesejahteraan rakyat dan disepakati bersama dan dijalankan dengan professional. Dan tidak menonjolkan kepentingan karena pejabat itu berjalan sesuai dengan rel keprofesionalan.

Keempat,
Kabinet dikatakan ideal ketika kabinet itu telah mengusung sebuah agenda-agenda kerja progresif yang riil dijalankan sejak mulai roda pemerintahan hingga pemerintahan berakhir. Agenda progresif ini pada akhirnya akan menjadi acuan titik langkah memajukan dan menyejahterakan rakyat.

Indonesia telah lama menanti suatu kabinet yang ideal. Sosok pemimpin ideal mungkin juga sedang dicari Indonesia. Akan tetapi, untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang menyejahterakan rakyat tentu hal yang sangat tidak mungkin ketika tidak didukung kabinet yang bersih, professional dan saling mengontrol dan diimbangi dengan agenda kerja yang progresif.

Apa jadinya ketika telah ada pemimpin ideal untuk mempimpin bangsa, akan tetapi orang-orang yang duduk dalam kabinet orang-orang yang tidak ideal sebagai wakil rakyat. Maka dari itu perlu adanya perombakan formasi dalam perpolitikan Indonesia.   Perlu adanya sebuah pendidikan dalam menggagas kabinet ideal. Orang bijak mengatakan bahwa berikan pendidikan terhadap penguasa dengan perlawanan dan berikan pendidikan pada rakyat dengan pergerakan. Kabinet ideal juga bukan sekedar impian ketika rakyat telah “melek politik”. Rakyat yang telah tersentuh dan paham akan pendidikan politik, akan menjalankan  fungsi kontrol bagi suatu kabinet yang sedang memimpin.  sehingga yang terjadi kemudian adalah kabinet ideal dengan diimbanngi oleh kontrol masyarkat yang telah tercerdaskan. Semoga.

Pro Rakyat

KabarIndonesia - Sebuah pertanyaan di malam itu cukup mengganggu pikiranku, hingga mata ini sulit untuk terpejam. Ada soal yang menggantung di relung batin. Mampukah orang Papua bertahan dan bahkan bertumbuh di tengah pusaran topan globaliasi yang menderu?.

Adalah fakta, bahwa masih banyak penduduk yang tinggal di pelosok pedalaman, di puncak-puncak gunung, di kedalaman lembah-lembah, yang belum mengenyam terangnya pendidikan. Jumlah masyarakat Papua yang belum bisa membaca dan menulis masih cukup tinggi.
Hidup … bukanlah hidup, jika tanpa nurani.

Sekiranya persoalan ini perlu bahkan harus menjadi pergumulan kita bersama, tidak sekedar menjadi wacana tetapi bisa mewujud dalam karya-karya nyata. Kita semua yang fasih menggunakan atau menikmati teknologi, misalnya facebook, selayaknya mengucap syukur atas kehidupan kita. Di seberang sana masih ada sesama kita yang bahkan tidak bisa memiliki baju seragam. Kita pengguna warnet, bisa menghabiskan paling rendah 20 ribu untuk mengakses informasi.

Sayangnya masih banyak saudara-saudara kita yang masih kesulitan untuk makan selayaknya seorang manusia. Bagaimana mereka bias berpikir untuk sekolah kalau untuk sekedar makan saja begitu sulit.
Imajinasiku kemudian pergi ke Surga, kehadapan Tahta Yang Maha Kudus. Seandainya Tuhan bertanya: “Habelino, apa yang sudah engkau kerjakan selama hidupmu?”.

Aku tidak tahu, harus menjawab apa. Hatiku pasti hancur berkeping-keping, menyadari kelalaianku menyia-nyiakan anugerah Tuhan.
Hampir di semua media, baik cetak maupun elektronik, kita bisa ikuti, seluruh petinggi bangsa berkata: “Pro Rakyat”. Tetapi benarkah? Pertanyaan ini bukan sekedar titisan buah piker Reine Descartes, melainkan sebagai cermin guna kita merefleksi diri kita masing-masing.
Pro rakyat tidak harus dengan jalan menjadi elit. Tidak harus dengan menjadi pengusaha sukses dan kaya yang selalu menang tender, tidak harus menunggu sampai kita memiliki posisi dan jabatan yang empuk. Sikap yang pro rakyat bisa dimulai dari orang-orang terdekat kita, lingkungan kita, di sepanjang Onix dan Prima Garden Abepura, tempat anak-anak jalanan berkelahi dengan waktu.

Pro rakyat bisa dimulai dari kampus, gereja, masjid, dan organisasi apapun di mana kita bernaung. Pro rakyat mengandaikan hati seorang pelayan.

Aku ingin tidur, Tuhan. Biarlah pikiran-pikiran ini hilang sejenak, agar mataku, pikiranku beristirahat sejenak. Itu doa di hati karena malam yang semakin larut dan tubuh yang semakin letih dan lelah.

Sayangnya, doaku tak terkabul. Pikiran-pikiran tentang mereka yang membutuhkan uluran tangan masih membuntuti kepalaku.
Akhirnya kuputuskan bangun dan menjalin persahabatan dengan buku dan pena. Seiring tiba sang penakluk matahari, bintang timur yang gilang-gemilang, Sera Adora, aku mulai menulis.

Pengertian pro rakyat bisa dienterpretasi secara berbeda-beda oleh masing-masing orang. Ada yang dengan lantang dan penuh percaya diri berusaha menawarkan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan pokok lainnya secara gratis. Artinya, kalau rakyat tidak mampu, segalanya akan dicukupi atau dibayar oleh pemerintah, apakah dari pendapatan pajak, penghasilan BUMN, atau pinjaman.

Umumnya para calon melihat dari penyediaan sekolah, fasilitas kesehatan dan modal kerja diiringi perbaikan infrastruktur serta penyediaan dana yang disalurkan melalui bank dengan sistem pasar terbuka. Padahal di bagian sana ada faktor manusia, penduduk atau keluarga, yang nilai Index Pembangunan Manusianya (IPM) amat rendah sehingga hampir tidak mampu menjangkau fasilitas yang disediakan tersebut.

Indikator keberhasilan diukur dengan miliar atau triliun rupiah yang disediakan, tidak pada jumlah atau berapa banyak keluarga tidak mampu bisa menjangkau, atau meningkat kemampuannya mengakses sekolah atau fasilitas pelatihan keterampilan sehingga makin cerdas dan mampu mengambil prakarsa dan inisiatif.

Hidup adalah pilihan. Memampukan masyarakat kecil agar mampu memilih dan bertanggungjawab atas pilihan mereka adalah sikap yang selayaknya dijunjung. Membuat hidup lebih hidup, begitu bunyi sebuah iklan di TV.

Atau mampu mengakses fasilitas kesehatan agar bertambah sehat dan usianya panjang, atau makin banyak penduduk mampu mengakses modal agar sanggup menjadi pemilik usaha yang terhormat dan usahanya memberi nilai tambah tinggi yang mampu mengangkat derajat dan martabatnya sebagai manusia terhormat.

Mampu berpikir, bertindak dan berbelanja secara mandiri karena tidak harus mengikuti standard yang ditetapkan seperti beras murah, sekolah gratis atau kesehatan tidak bayar tetapi harus tunduk pada batasan standard pelayanan sederhana yang disediakan rumah sakit yang mempertontonkan ketidak-adilan pelayanan yang menyakitkan hati.

Tantangan pembangunan masa depan seharusnya menempatkan sesama (baca: manusia) sebagai titik sentral pembangunan. Penempatan manusia sebagai titik sentral pembangunan tidak boleh hanya menjadi monopoli pembangunan politik yang memberikan hak kepada setiap penduduk untuk mempunyai suara sama, tetapi menyebar pada seluruh proses pemberdayaan yang demokratis dan meletakkan pilihan pada setiap penduduk. Pendekatan ini memerlukan cara pandang penawaran pembangunan yang berbeda. Sekali lagi ukurannya adalah manusia.

Untuk itu kita perlu memperkuat komitmen dan dukungan operasional pada pemberdayaan keluarga melalui pengembangan kembali modal sosial berupa budaya hidup bersama dan berbagi. Kebersamaan antara mereka yang sudah berhasil dan keluarga tertinggal, kepedulian antar sesama anak bangsa, dan keikhlasan yang di masa lalu menjadi ciri bangsa yang sangat beradab dan dinilai banyak kalangan sebagai bangsa yang berbudaya.

Pendekatan pembangunan ini, harus menempatkan birokrasi yang menurut anggapan banyak kalangan harus direformasi, menjadi kekuatan pendamping, kekuatan fasilitator yang bertindak sebagai guru yang bangga melihat murid atau siswanya maju melebihi dirinya. Birokrasi yang bangga melihat rakyatnya berubah menjadi pengusaha yang dengan kesadaran tinggi, karena mendapat pendampingan, dan fasilitasi yang positif, akan membayar pajak.

Proses pemberdayaan itu keberhasilannya diukur dari makin berkembangnya jumlah penduduk yang maju, terbebas dari kebodohan, terlepas dari lembah kemiskinan, dan kembali menjadi masyarakat gotong royong yang insannya sangat peduli terhadap sesama. Bukan pada berapa miliar atau triliun rupiah yang dianggarkan.

Setiap kita haruslah memikul tanggungjawab sosial memberdayakan sesama kita.

Akhirnya, mata ini tak sanggup lagi, aku tertidur di atas sahabatku, buku dan pena. Semoga di esok hari, ku terbangun dengan sukacita baru, dengan hati yang baru, hati seorang pelayan.
Semoga setiap kita menjadi pro rakyat yang sesungguhnya, agar kita tak malu saat kita ke sorga loka.

(Pendiri dan Ketua Umum I Gerakan Mahasiswa Papua Indonesia)

Minggu, 18 Oktober 2009

Kota Tua Lebong Tandai part 2

...sempat menjadi titik kendali Pemerintahan Wilayah Sumatera Bagian Selatan..

Jika ingin ‘menguji nyali’, kita juga dapat mencoba menyusuri lobang terowongan utama bekas tambang Belanda. Lobang terowongan itu menghubungkan antara tambang Air Nuar dengan Tambang Lebong Tandai yang menembus perut bumi sepanjang + 5 Km, menaiki 16 buah tangga dengan ketinggian tangga rata-rata 6 m, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, didalam lobang terowongan itu juga masih tersisa bekas rel lori peninggalan Belanda. (Data LPAP FISIP UNIB, 2003) Dilokasi Tambang Lebong Tandai ini perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau membuat 16 level terowongan yang jarak satu level dengan level yang lainnya rata-rata 50 meter kebawah tanah. Pada waktu itu dibuat tangga lip untuk pekerja masuk ke terowongan itu. Sampai sekarang tiang-tiang lip itu masih dapat kita jumpai.


Lori listrik yang mengangkut gold ore sudah ada sejak dahulu (Photo 1932)

Setelah masuknya PT Lusang Mining terowongan-terowongan ini kembali dikelola. Namun itupun hanya sampai level 11 karena level 12-16 sudah penuh dengan air dan tertimbun tanah. Pasca bangkrutnya PT Lusang Mining tahun 1994, terowongan sebagai lokasi tambang dikelola oleh rakyat, namun karena keterbatasan alat, para penambang hanya mampu masuk sampai level 6. Tak jarang para penambang harus berdiam didalam lobang terowongan selama berhari-hari jika menemukan ‘or’ (batu yang banyak mengandung emas).


suasana Lebong Tandai dahulu

Untuk mengetahui perubahan waktu siang atau malam mereka cukup dengan melihat apakah kelelawar keluar atau masuk keterowongan. Kalau kelelawar masuk artinya siang begitu juga sebaliknya. Saat ini, setiap saat para penambang dapat mengetahui pasaran harga emas dunia,
dengan memonitor berita keluar negeri, misalnya BBC London. Dengan rumus tertentu mereka dapat mengetahui harga emas dunia dengan standar dolar. Bahkan ada juga yang memiliki pesawat telepon satelit. Penggunaan alat elektronik seperti TV, kulkas atau radio komunikasi ditunjang oleh tersedianya aliran listrik dari tenaga air terus menyala siang-malam tak pernah mati.

Eks Rumah Sakit Belanda Lokasi rumah sakit ini terletak dibukit barisan sebelah barat Lebong Tandai. Rumah sakit ini menampung para pekerja perusahaan Mijnbouw maatschappij simau yang sakit. Kebanyakan pekerja itu sakit paru-paru (TBC) disebabkan kondisi dan alat kerja yang tidak menjamin keselamatan pekerja. Misalnya alat bor yang digunakan masih sangat manual, tanpa semprotan air, bentuknya seperti senapan mesin dan bagian belakang alat bor itu ditempelkan didada, pekerja bor beraktifitas tanpa masker sehingga debu yang keluardari batu yang dibor langsung terhisap.


Bak penampung limbah tambang milik perusahaan Belanda

Paling lama 6 bulan pekerja ini sudah terserang penyakit. Kalaupun ada rumah sakit itupun tidak banyak membantu. Menurut cerita warga bagi pekerja bagian pengeboran yang sakit maka diberi 2 pilihan apakah akan dikirim pulang kekampung halamannya (kebanyakan pekerja dari pulau Jawa tepatnya Banten) atau tetap dirawat dirumah sakit itu sambil menunggu ajal tiba. Tak heran dibagian belakang rumah sakit terdapat lokasi kuburan yang sebagian besar adalah ‘korban’ perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau.

Untuk menuju ke lokasi eks rumah sakit ini ada 2 jalan. Yang pertama melalui jalam setapak, dulunya ini adalah jalan aspal yang dipakai untuk jalan mobil oleh perusahaan Belanda. Seperti dituturkan warga bahwa sekitar tahun 1960an masih ada bekas mobil sedan Ford didesa ini. Yang kedua melalui jalan tangga semen yang sampai saat ini masih cukup terjaga. Dikiri-kanan tangga ini masih banyak sekali tanaman bambu China dan bermacam jenis bunga. Dapat disimpulkan bahwa dulunya ini adalah taman yang indah menuju rumah sakit itu.


Penambang sedang mengebor di tambang emas Lebong Donok (1932)

Kamar BolaTempat ini khusus disiapkan oleh Belanda sebagai sarana hiburan bagi para pekerja tambang. Letaknya dikaki bukit barisan dibawah eks rumah sakit jaman Belanda. Kita dapat membayangkan waktu tahun 1900an ditempat ini sudah ada permainan yang yang sebenarnya permainan itu lazim dimainkan oleh kelas menengah Eropa waktu itu. Saat ini yang tersisa hanya gedungnya saja meja, stik dan bola billyard sudah tidak ada lagi. Tapi walaupun demikian bagi yang ingin mencoba bermain billyard dilokasi ini sambil membayangkan kehidupan waktu itu, kita masih bisa bermain billyard karena beberapa warga membangun sarana billyard sendiri. Rumah Simau Bangunan kayu ini mirip rumah panjang khas suku Dayak Kalimantan, tapi dibuat seperti bedeng-bedeng terdiri dari 13 pintu, tingginya sekitar 12 meter dari tanah, panjangnya sekitar 70 meter. Ruangan bagian atas dan bawah bisa ditempati sebagai tempat tinggal.

Dinamakan Rumah Simau atau Pondok Baru karena bangunan yang didirikan sekitar tahun 1940 ini merupakan bangunan terakhir yang didirikan oleh perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau, sebelum tambang ini dikuasai oleh Penjajah Jepang Tahun 1942-1945. Awalnya bangunan ini diperuntukkan bagi para pekerja perusahaan Belanda itu. Hingga saat ini bangunan ini tidak ada perubahan bentuk termasuk dinding, lantai hanya atap yang bocor yang diperbaiki oleh warga yang menempatinya.


Pabrik Pengolahan Biji Emas

Selain rumah Simau masih ada beberapa rumah lagi yang asli peninggalan Belanda, misalnyarumah yang ditempati oleh Bik Lis (40) ciri-ciri jendela yang besar dan bekas-bekas taman masih relatif terpelihara.

Pemakaman Belanda Pemakaman ini berada disebelah selatan Desa Lebong Tandai yaitu sekitar 1 jam berjalan kaki, banyak orang asing khususnya Belanda yang bekerja di Perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau dikuburkan disini. Sebagian diantara orang asing itu meninggal karena dibunuh oleh pekerja kontrak yang tidak tahan dengan penderitaan.

Menurut cerita disana dimakamkan juga tuan Smith yang dibunuh oleh seorang inang (perempuan) dengan cara ditusuk dengan paku yang telah dipipihkan sebagai senjata ke bagian leher tuan Smith. Ada juga orang Belanda yang meninggal karena kepalanya di bor oleh pekerja tambang.


Lori Si Molek

Pemakaman China Lokasinya berada sekitar 3 km dari arah Lebong Tandai menuju Desa Napal Putih. Berada disebuah bukit kecil disebelah kanan rel kereta Molek. Sampai sekarang setiap hari raya Tionghoa maupun acara keagamaan Konghucu, ahli waris masih melakukan upacara atau ritual keagamaan dilokasi ini. Beberapa diantara warga desa Lebong Tandai dan Napal Putih adalah keturunan Tionghoa.

Makam Pahlawan Terletak dibelakang eks rumah sakit jaman Belanda. Mereka yang dimakamkan disini adalah para pejuang yang tergabung dalam laskar-laskar rakyat dan sebagian memang tentara. Mereka gugur karena ledakan bom, saat Belanda bermaksud menguasai kembali lokasi tambang ini tahun 1947-1949. Rakyat yang tergabung dalam laskar-laskar itu diberi pangkat setelah gugur sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan.

Desa Lebong Tandai juga pernah dijadikan basis gerilya pada waktu perang mempertahankankemerdekaan. Gedung Bulu Tangkis BelandaBentuk bangunan masih relatif asli, dulu dipergunakan untuk tempat olahraga bagi para pekerja tambang. Saat ini hanya dipergunakan sebagai gudang oleh warga. Bangunan ini bersebelahan dengan bekas bioskop jaman Belanda.

Air Panas Alami Lokasinya terletak dibawah jembatan sungai Kelumbuk sekitar 8 km dari Desa Napal Putih. Air panas ini mengandung belerang. Dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa airnya bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit kulit.

Tidak jauh dari air panas ini juga terdapat air terjun yang indah, masyarakat menyebutnya air terjun Kelumbuk. Alat Tambang KunoAlat tambang peninggalan perusahaan Belanda Mijnbouw Maatschappij Simau masih cukup banyak, diantara bor manual dan lori. Belum terlambat jika pemerintah mengumpulkan barang-barang ini sebagai sebuah peninggalan sejarah. Bisa saja dibuat museum yang khusus menyimpan barang-barang kuno ini.

Sungai Lusang Nama PT Lusang Mining diambil dari nama sungai ini. Sungai ini membelah desa Lebong Tandai, airnya cukup deras dan sangat jernih serta penuh dengan bebatuan besar. Sangat cocok jika dijadikan lokasi olahraga air seperti arung jeram. Beraneka macam ikan langka khususnya ikan Putih atau ikan Semah (disebut ikan putih karena warna sisiknya keputih-putihan) masih banyak terdapat disungai ini.Kelebihan ikan ini dibanding ikan lainnya adalah sisiknya bisa dikonsumsi karena terdiri dari tulang rawan.

Masyarakat menangkap ikan ini dengan cara dijala, jaring, pancing dan panah. Ada kepercayaan jika masyarakat mencari ikan dengan menggunakan bahan peledak atau racun maka sungai ini akan meluap menyebabkan banjir. Hingga saat ini sebagian besar masyarakat masih mempercayai mitos itu. Secara tak sengaja, ikan langka ini juga diternakkan didalam kolam-kolam warga, karena anak-anak ikan itu masuk kekolam warga melalui pipa-pipa besi yang airnya berasal dari sungai.

Hutan TNKSHutan ini masih relatif terjaga, karena warga Lebong Tandai juga berperan sebagai penjaga hutan. Mereka sadar bahwa mata pencaharian mereka yaitu menambang emas sangat tergantung pada hutan ini. Karena jika hutan ini rusak maka akan berpengaruh pada sungai dan dam yang mereka gunakan untuk memutar Gelundung atau memutar turbin listrik. Selain itu, jika hutan ini gundul maka dapat mengakibatkan longsor, jika terjadi longsong maka akan tertimbunlah desa ini mengingat desa ini diapit oleh 2 bukit barisan yang masuk kawasan TNKS (taman nasional kerinci sebelat).

Kerajinan Perak. Kerajinan perak ini masih diusahakan secara sederhana dan dalam skala kecil. Bermacam-macam perhiasan yang terbuat dari perak seperti cincin, gelang dan kalung dapat dibeli atau dipesan disini.

Yang berbeda disini adalah kita dapat langsung melihat proses sejak awal dari penambangan sampai proses perak dijadikan perhiasan. Pengrajin juga menjamin perhiasan perak yang dibuat disini walaupun dipakai sampai lama warnanya tidak akan berubah kehitam-hitaman. Karena kwalitas bahan perak benar-benar dijaga alias perak murni. Pemasaran perhiasan ini sebagian dijual ke luar Lebong Tandai dan sebagian dibeli oleh mereka yang berkunjung kesini.

Kota Tua Lebong Tandai part 1

Lebong Tandai "Batavia Kecil" Tempat Dimana Emas Monas Berasal
Catatan Perjalanan ke Kota Tambang Tua Bersejarah

Sumber: rejang-lebong.blogspot.com

"Perjalanan menuju "Batavia Kecil" (nama lain untuk kawasan Lebong Tandai yang digunakan Belanda waktu menguasai lokasi tambang emas di desa Lebong Tandai). Mengingatkan kita pada kejayaan masa lalu, dimana tempat ini pernah menjadi incaran banyak pihak, baik pada masa Belanda, Jepang maupun Investor pada masa kemerdekaan ini.


Lebong Tandai 1910

Menuju lokasi penambangan emas didesa Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu cukup mudah karena angkutan umum relatif lancar, karena kita dapat memilih apakah melalui rute Kota Bengkulu- Napal Putih atau melalui rute Muara Aman (Ibu Kota Kabupaten Lebong) – Napal Putih.


Salah satu lembar saham tambang emas tertanggal 2 january 1904, bernilai 100 gulden, bukti bahwa perusahaan ini sudah go publik sejak dahulu. Tambang-tambang Emas rejang Lebong telah mulai di eksplorasi besar besaran oleh Belanda sejak tahun 1897.

Perjalanan dari kota Bengkulu memakan waktu sekitar 3, 5 jam dengan menggunakan angkutan umum menuju desa Napal Putih, dengan ongkos Rp 30.000, desa itu adalah desa terakhir yang kita singgahi sebelum melakukan perjalanan ke desa Lebong Tandai. Demikian juga jika kita memilih rute Muara Aman-Napal Putih kita akan menempuh perjalanan dengan angkutan umum sekitar 4 jam. Setiba dipangkal desa Napal Putih Kecamatan Ketahun, sebaiknya kita turun terlebih dulu dari kendaraan, karena disana ada bekas rumah bersejarah yang dulu didiami oleh Pangeran Muhammad Ali Firman Alamsyah Gelar Rajo Mangkuto (Pangeran terakhir Marga Ketahun) dan juga pernah dijadikan rumah atau markas oleh
Dr. AK Gani Gubernur Militer Sumatera Bagian Selatan pada masa perang kemerdekaan.

Sekarang rumah tersebut berstatus cagar budaya dibawah tanggung jawab pemerintah. Karena ahli waris Pangeran Muhammad Ali Firman Alamsyah Gelar Rajo Mangkuto menyerahkan kepada Departemen Pariwisata dalam hal ini Dirjen Museum dan Kepurbakalaan Kantor Wilayah Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan. Disana kita diperbolehkan untuk masuk dan
melihat bagian dalam ruangan rumah bersejarah itu. Dirumah yang terletak Desa Napal Putih inilah pada tahun 1947 roda pemerintahan Sumatera Bagian Selatan meliputi Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dikendalikan oleh Dr. AK Ganie sebagai Gubernur Militer.

Setelah itu, kita kemudian menuju ‘Stasiun’ Molek (sebutan bagi kereta lori berukuran 5 x 1 m, bermesin diesel 10 PK yang bermuatan maksimal 10 penumpang). Ongkos perorang
adalah Rp 20.000. Stasiun ini terletak diujung desa, dipinggir sungai ketahun. Banyak Molek yang menunggu penumpang namun rata-rata terminal ini ramai pada hari Senin dan Kamis karena pada hari itu para penambang dari luar Kabupaten Bengkulu Utara misalnya dari Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong berdatangan menuju desa Lebong Tandai. Perjalanan dengan menggunakan Molek menuju Lebong Tandai dilakukan sore hari yaitu sekitar pukul 17.00 WIB hal ini guna menghindari terjadinya tabrakan dikarenakan Molek dari Lebong Tandai tiba di Napal Putih pukul 16.00 WIB. Mengingat jalur rel hanya satu, jika terpaksa bertemu dengan Molek yang lain yang berlawanan arah atau ada Molek yang macet dijalan maka salah satu Molek dapat disingkirkan keluar rel, cukup hanya dengan tenaga 3 orang Molek itu dapat diangkat keluar rel. Biasanya, para "Masinis" Molek memilih untuk berjalan beriringan, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan jika ada hambatan. Perjalanan menjelang hari mulai gelap ini, memberi kesan tersendiri bagi mereka yang menyukai wisata alam karena kita hanya bisa melihat hutan dikanan kiri dan Molek yang berjalan didepan
atau dibelakang Molek yang kita tumpangi.


Kebanggaan Masyarakat Bengkulu: 35 Kg emas murni dari Lebong Tandai

Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman untuk bekal dijalan karena perjalanan ini cukup panjang karena menempuh 33 km panjangnya rel kereta ini. Untuk diketahui sejak jaman
penjajahan hingga sekarang ini, baru ada 2 wilayah yang dilewati rute kereta api atau yang memiliki rel, yaitu disini dan di Kecamatan Kota Padang (Kabupaten Rejang Lebong berbatasan dengan Kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan).

Setelah kita menyusuri rel yang membelah hutan sambil menikmati bunyi-bunyian binatang malam sebelum tiba di desa Lebong Tandai kita akan melewati 3 terowongan, yaitu terowongan lobang panjang (+ 300 m), lobang tengah (+ 100 m) dan lobang pendek (+ 50 m) sampailah kita didesa Lebong Tandai, pemandangan desa ini pada malam hari mengingatkan kita pada suasana kehidupan para penambang di film-film Hollywood yang mengambil latar kehidupan
tambang.

Warung-warung berjejer dengan rapi disepanjang jalan ditengah-tengah desa. Masyarakat sebagian duduk ngobrol, main kartu, dan menonton TV, tak sedikit pula yang bergegas menuju Molek yang baru tiba karena mengambil pesanan barang yang dibeli dari luar desa. Semua orang pasti akan takjub bercampur kagum betapa tidak, setelah
melewati perjalanan selama 3, 5 jam, yang pemandangannya hanya hutan, tiba-tiba didepan kita terbentang sebuah desa yang penuh dengan nuansa modern. Listrik yang terang benderang dan tak pernah mati memancar dari setiap rumah dan sudut desa, dan hampir ditiap rumah memiliki pesawat TV walaupun ukuran kecil. Alat elektronik seperti TV, Radio dan sejenisnya adalah salah satu hiburan bagi masyarakat yang hidup didaerah terpencil ini. Berbicara tentanghiburan memang tradisi itu sudah cukup lama tertanam dimasyarakat. Pantas saja, dengan posisi terpencil dan jauh dari dunia luar, perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau milik Belanda tahun 1910 masuk ke Lebong Tandai dan menguasai tambang ini dibangun kamar bola (tempat bermain billyard), lapangan basket, lapangan tenis, rumah kuning (rumah bordil/lokalisasi) dan bioskop. Hanya bioskop dan rumah kuning yang bangunannya sudah tidak ada lagi.


Lebong Tandai 1900

Perusahaan Belanda itu juga setiap tahun mendatangkan penari ronggeng dari Batavia (sekarang Jakarta). Hal ini dapat dibuktikan dengan nama sebuah jembatan menuju Lebong Tandai yaitu jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II. Dinamakan jembatan Dam Ronggeng karena pada saat peresmiannya mengundang penari-penari ronggeng dari Batavia. Tradisi hiburan itu berlanjut hingga tahun 1980an didesa ini ada 3 kelompok musik/band yaitu Anior, Trinada
dan Puspa Ria. Bahkan menurut warga, pada masa PT Lusang Mining mengelola tambang ini hampir saja ada lokalisasi, karena PT Lusang Mining ingin menerapkan ‘single status’ (hidup dilokasi tambang tanpa boleh membawa istri).

Selain itu, hampir setiap ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan RI Camat memilih mengunjungi desa ini untuk merayakannya dengan berbagai aneka kegiatan dan berziarah ke makam pahlawan bersama warga desa. Desa ini terletak 500 meter dari permukaan laut, disebelah selatan berbatasan dengan bukit Husin dan sebelah utara berbatasan dengan bukit Baharu. Tercatat penduduknya 120 KK atau sekitar 360 jiwa ini dibagi menjadi 3 RT dan 2 Dusun. Desa ini pernah mendapat predikat sebagai desa teladan pada masa Kepala Desa Parman memimpin.

Penduduk disini cukup heterogen ada suku Jawa, keturunan Tionghoa, Sunda, Batak, Padang, Rejang dan penduduk Pekal yang sejak awal mendiami wilayah itu. Tak heran jika penduduk disini dalam percakapan sehari-hari menggunakan 2 bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Pekal. Namun walaupun heterogen dan sudah tersentuh modernisasi kegotong-royongan warga masih cukup kuat, termasuk keramah-tamahan jika bertemu dengan orang yang baru datang.

Desa ini dulunya pernah ditinggalkan penduduknya pada tahun 1988 karena pengusiran yang dilakukan oleh PT Lusang Mining sebuah perusahaan PMA yang sahamnya sebagian dimiliki oleh Australia dan sebagian sahamnya milik keluarga Cendana (Mantan Presiden Soeharto). Sebanyak 108 KK ditransmigrasikan secara paksa ke Trans Ipuh Kabupaten Muko-muko. Hanya sedikit warga yang berani menolak menjadi peserta transmigrasi diantara yang menolak itu adalah Mahyudin (54) konsekuensinya mereka dan keluarganya harus mengalami tekanan yang cukup menyakitkan, misalnya dilarang menambang emas dan tidak boleh memakai fasilitas kereta Molek. Jadi mereka harus berjalan kaki melewati rute hutan jika ingin pergi keluar desa. Namun hal itu ada hikmahnya misalnya bagi Mahyudin , dengan situasi sulit itu kemudian dia
mendapat keahlian baru yaitu beralih profesi menjadi pandai besi dengan membuat alat-alat dapur dan pertanian, seperti pisau dan cangkul, kemudian dijual kepada para pekerja PT Lusang Mining.

Untunglah situasi itu tidak berlangsung lama karena pada tahun 1994 PT Lusang Mining bangkrut. Banyak pekerja yang tidak dibayar gajinya hingga saat ini, aset rumah dan gedung sebanyak 45 unit dan alat-alat tambang ditinggalkan begitu saja oleh pihak PT Lusang Mining.
Penduduk yang tadinya ditransmigrasikan, kembali ke Lebong Tandai. Beberapa pekerja khususnya yang memiliki sertifikat juru ledak dinamit dan pengeboran banyak yang pindah bekerja di PT Freeport Papua. Sekarang ini masyarakat belum berani membuat bangunan permanen, kebanyakan masih memanfaatkan sisa-sisa bangunan bekas Belanda atau PT Lusang Mining. Mereka trauma dengan kejadian pengusiran yang pernah mereka alami.

Salah satu yang mereka sesalkan adalah tidak adanya pembelaan dari pemerintah waktu itu pada saat mereka diusir padahal usaha ‘proyek’ (sebutan untuk lokasi penambangan emas) milik warga dilengkapi dengan ijin usaha (HO) dari pemerintah dan tidak lupa membayar pajak. Padahal bukti pembayaran pajak dan surat Ijin usaha itu menunjukkan kekuatan hukum warga atas usaha yang dikelolanya.

Karena kita tiba didesa pada malam hari, rasanya tak sabar kita menunggu datangnya pagi. Rasa penasaran ingin menyaksikan desa ini disiang hari. Para penambang maupun perangkat desa akan membantu kita mengenal lebih dekat apa-apa saja yang ada didesa ini. Namun jangan lupa
membawa kamera handycam dan kamera fhoto jika kita mengunjungi tempat ini. Karena banyak tempat wisata alam dan wisata sejarah yang bisa kita kunjungi antara lain :

Tambang Emas TradisionalPerusahaan yang pertama kali melakukan eksploitasi emas secara besar-besaran dengan peralatan modern adalah Mijnbouw Maatschappij Simau milik Belanda tahun 1910. Disini ada 3 lokasi tambang emas, yaitu di Air Nuar, Lebong Tandai dan Karang Suluh.

Disini kita dapat menyaksikan ‘Gelundung’ (alat memisahkan emas dengan batu) berbentuk silender, terbuat dari plat baja, diameter 30 cm, jumlahnya perlokasi proyek sampai 40 buah berjejer rapi. Hal ini berbeda dengan pertambangan rakyat yang terletak di Tambang Sulit, Tambang Kacamata, Tambang Sawah, Tambang Lebong Simpang (semuanya terletak di Kabupaten Lebong) yang jumlah Gelundungnya paling banyak setiap proyek hanya 10 buah, ditempat lain Gelundung itupun hanya terbuat dari kayu. Saat ini pajak yang dipungut oleh pemerintah desa sebesar Rp 1.000./Gelundung/bulan.

Kita juga dapat melihat serombongan pekerja tambang tambang pulang mendorong lori yang melaju kencang yang penuh berisi batu emas. Mereka mendorong lori sambil berteriak-teriak sebagai isyarat kepada orang-orang yang berdiri direl agar minggir agar jangan tertabrak. Nyaris hanya mata dan giginya saja yang tidak terkena lumpur. Sepantasnya kita belajar banyak dari semangat yang mereka tunjukkan oleh penambang ini.

Bengkulu: Saksi Cinta Soekarno - Fatmawati

Bengkulu: Saksi Cinta Soekarno - Fatmawati








Sepeda Bung Karno tersimpan di Persada Bung Karno Bengkulu

Khasanah Puspa Langka Bengkulu

Bunga Raflesia Arnoldi
Habitat utama: Hutan di Kabupaten Bengkulu Tengah, Kepahiang dan Bengkulu Utara






Anggrek Pensil "Vanda Hookeriana"
Habitat Utama: Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu







Anggrek pensil memiliki keindahan yang khas. Kesegaran bunga ini dapat mencapai 22 hari. Pada tahun 1882 anggrek ini dinobatkan sebagai "Ratu Anggrek" dan mendapat hadiah "First Class Certificate" dari pemerintah Inggris. Nama hookeriana diberikan sebagai penghormatan kepada Sir William Jackson Hooker.

sumber: rejang-lebong.blogspot.com

Yunita Erlina Sari - Putri Pariwisata Bengkulu 2009

Yunita Erlina Sari - Putri Pariwisata Bengkulu 2009
Pesona Gadis Bengkulu

Barong Landong - Ondel-ondel Bengkulu

Barong Landong - Ondel-ondel Bengkulu
Digunakan sebagai Media Spritual pada Upacara Adat Tahunan



Ditemukan Gunung Api di Bawah Laut Bengkulu

Ditemukan Gunung Api di Bawah Laut Bengkulu


JAKARTA – Bengkulu bukan hanya daerah rawan gempa. Info terbaru, para ahli geologi menemukan gunung api raksasa di bawah laut Bengkulu. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter. Lokasinya berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Gunung api di bawah laut ini ditemukan oleh tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis. Yakni dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

‘’Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,’’ kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan kemarin.

Penemuan gunung api di bawah laut Bengkulu ini saat dilakukan survei dengan menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas. Tepatnya di Palung Sunda di barat daya Sumatera, di kedalaman 5,9 kilometer dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.

Survei ini merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Menurut Peneliti LIPI, Dr. Ir. Danny Hilman Natawidjaja dari hasil survei mereka gunung tersebut masuk kategori gunung berapi. Namun belum bisa dipastikan secara detail apakah aktif atau tidak.

“Itu hasil temuan tim. Kalau kita lihat ukurannya memang luar biasa. Jauh lebih besar dibandingkan gunung berapi di Jogjakarta yang hanya 3.600 meter atau gunung berapi di Sumatara yang rata-rata tingginya mencapai 3.000 meter atau 3 kilometer.

Untuk mengetahui aktif atau tidaknya harus kita teliti lebih lanjut. Kebiasaan gunung berapi yang berada di palung seperti itu tidak aktif. Hanya saja, berhubung palung tersebut adalah tempat pertamuan lempengan Eurosia dan Indo Australia yang saling bertubrukan kemungkinan aktif. Nah seberapa aktifnya, kami juga belum tahu,” ungkap Danny tadi malam.

Berbahayakah keberadaan gunung ini? Danny menjelaskan, jika gunung ini aktif dan mengandung magma tentunya berbahaya. Bila meletus, dapat menyebabkan tsunami yang bisa menerpa Pulau Enggano dan Kota Bengkulu. Nah seberapa hebatnya daya letus gunung dan besaran tsunami masih harus diteliti lebih dulu.

Sebaliknya jika gunung tersebut tidak aktif, maka Bengkulu aman dari peluang bencana letusan gunung berapi, yang dapat menyebabkan gempa bumi dan tsunami. ‘’Untuk memastikan gunung tersebut aktif atau tidak tergantung bagaimana hasil penelitian lanjutannya. Kalau tidak aktif sih, masyarakat Bengkulu nggak perlu khawatir,” analisa Danny.

Hal senada juga ditegakan Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar geologi belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini. Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus, katanya.

Yang jelas, sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

Diakui Danny, temuan ini sangat menarik bagi peneliti. “Bagi kita itu menarik, asyik malah. Diteliti atau tidak tergantung dananya. Kita lihat peluangnya nanti, akan diteliti lebih lanjut atau tidak. Yang jelas, kalau melihat posisinya gunung ini sudah ada sejak lama,” kata Danny lagi.

Sementara Kepala BMG Kepahiang, Dadang Permana mengaku belum tahu info tersebut. Hanya saja, kalau melihat posisinya Dadang menjelaskan, Palung Sunda tersebut tempat lempengan Indoaustralia menabrak lempengan Eurosia. Ada kemungkinan, gunung berapi ini aktif. Karena berada di daerah aktif gempa, akibat tubrukan kedua lempengan tersebut.

BMG bisa saja melakukan analisa, terhadap getaran gempa yang muncul dari palung tersebut mengandung magma atau tidak. Penelitian ini harus detail, satu per satu getaran harus dianalisa dengan menggunakan tomografi. Prinsip kerja alat ini, sama dengan ct scan. Bedanya kalau ct scan menggunakan sinar infra merah, sedangkan tomografi dengan gelombang gempa.

Dadang juga menyatakan, jarak Bengkulu dengan Pulau Enggano mencapai 200 kilometer. Artinya kalau 330 kilometer, masih 130 kilometer dari Pulau Enggano arah ke barat. Posisi palung berada di sebelah Selatan Mentawai, dimana lempengannya kini mulai bergerak.

“Getaran gempa dari pusat gunung yang mengandung magma beda dengan getaran gempa biasa. Kita bisa ceritakan melalui analisa lebih lanjut. Kalau di BMG mungkin 2 – 3 tahun lagi bisa melakukan penelitian seperti ini. Kalau melihat petanya, kawasan palung itu kawasan aktif gempa. Kemungkinan di sana panas. Jujur saya baru dengar info ini,” terang Dadang.(yoh)

Sumber: Harian Rakyat Bengkulu - 21 Mei 2009

Gunung Api di Bengkulu Diklaim Terbesar di Indonesia

Gunung Api di Bengkulu Diklaim Terbesar di Indonesia
Berada di Sekitar Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Bandung menilai penemuan gunung api setinggi 4.600 meter oleh para pakar geologi Indonesia dan sejumlah negara asing itu merupakan gunung api terbesar di Indonesia.

Gunung Kerinci yang tingginya sekitar 3.800 meter dan Gunung Semeru sekitar 3.600 meter kalah dengan gunung yang baru ditemukan di perairan Bengkulu tersebut, kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Bandung, Surono, di Jakarta, Jumat. "Kalau gunung ini memang benar gunung api, maka gunung ini merupakan gunung api terbesar di Indonesia," katanya.

Lokasi gunung tersebut berada di Palung Sunda di Barat daya Sumatra, 330km dari Kota Bengkulu atau di sekitar Pulau Enggano, di kedalaman 5.900 meter dan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut serta memiliki diameter 50 km.

Menurut dia, para peneliti harus melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kepastian gunung merapi itu, seperti tingkat keaktifan magmanya, memiliki lubang pada bagian atasnya sebagai tempat untuk keluar letusan dan lainnya.

Bila gunung itu merupakan gunung merapi, maka sangat berbahaya jika meletus karena gunung yang berada di tengah laut itu bisa menimbulkan gelombang besar di permukaan laut, bahkan tsunami. Oleh karena itu perlu ada perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi hal itu.

"Para peneliti juga harus melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi gunung tersebut. Serta membuat peta rawan bencana di sekitar gunung itu, sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Surono memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas dan Institut de Physique Globe) Paris yang menemukan gunung api raksasa tersebut.

Ia memprediksi gunung api yang ditemukan itu sebelumnya pernah beberapa kali meletus, sehingga material-material letusannya membuat gunung itu semakin besar seperti sekarang ini.

Sebelumnya, Riset Kelautan BPPT, LIPI, Departemen ESDM dan CGGVeritas serta IPG (Institut de Physique du Globe) Paris menemukan adanya gunung api raksasa bawah laut dengan diameter mencapai 50km dan tinggi sampai 4.600 meter di 330km arah barat Kota Bengkulu.

"Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua," kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).

Gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, ia mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api tersebut.

"Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus," katanya.

Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu merupakan yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei tersebut untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km), meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.

Sejak kejadian gempa dan tsunami pada akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumtera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS dan Prancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).

Sumber: TVOne - 30 Mei 2009

SEJARAH BENGKULU

SEJARAH BENGKULU

Rosihan Anwar (tokoh pers nasional) dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia menyebutkan, bahwa sebutan masa dahulu Bengkulu adalah Silebar. Wilayah bernama Silebar ini terkenal sebagai penghasil lada.

Pedagang dari Kerajaan Tarumanegara di sekitaran Citarum, Jawa Barat yang eksis sekitar abad ke-4 sampai 7 Masehi diketahui sudah mengunjungi Silebar (selanjutnya disebut Bengkulu) untuk membeli lada. Kesultanan Banten lantas menguasai Bengkulu pada abad XVI.

Ini menimbulkan pula keberpihakan Bengkulu secara politis pada Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1683) yang saat itu memimpin Kesultanan Banten ketika badai politik menghantam Banten. Kala itu terjadi sengketa antara putra Sultan Ageng Tirtayasa yakni Sultan Haji dan Sultan Purbaya yang kemudian disusupi oleh Belanda.

Belanda, kemudian membantu Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Bisa ditebak bahwa setelah Belanda mengirim pasukan untuk membantu Sultan Haji, maka Sultan Ageng Tirtayasa pun dapat dikalahkan.

Selanjutnya adalah kesepakatan soal kompensasi atas bantuan Belanda pada Sultan Haji. Tanggal 22 Agustus 1682, Sultan Haji menandatangani perjanjian dengan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), organisasi dagang Belanda di Hindia Belanda (Indonesia) antara tahun 1602-1800.

Selain perjanjian, yang menurut Rosihan Anwar, merugikan Banten, dampak lain dari perjanjian itu adalah terpaksa keluarnya orang-orang Inggris dari Banten. Karena Bengkulu secara politis masih mendukung Sultan Ageng Tirtayasa, maka orang-orang Inggris yang terpaksa keluar dari Banten pun menuju ke Bengkulu.

Sejumlah pejuang Indonesia yang lari dari kejaran Belanda pun kerap menjadikan Bengkulu sebagai tujuan. Selain itu, Bengkulu juga dikenal jadi lokasi pembuangan pejuang atau tokoh politik Indonesia.

Sentot Alibasyah Prawirodirjo (1825-1942), salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro yang masyhur dibuang ke Bengkulu dan dimakamkan pula di Kota Bengkulu. Presiden Pertama RI, Soekarno, antara 1938-1942 diasingkan pula ke Kota Bengkulu.

Soekarno, bertemu Fatmawati di Bengkulu.

Sir Thomas Stamford Bingley Raffles lalu menjadi Gubernur Bengkulu pada 1818. Jabatan ini disandang Raffles usai dipromosikan setelah dianggap paripurna sebagai Letnan Gubernur Jawa mulai 1811 dan ketika Inggris mulai mengakusisi daerah-daerah jajahan Belanda saat Perancis lewat Napoleon Bonaparte yang lahir di Korsika menduduki Belanda.

Raffles ingin mendirikan sebuah Kerajaan Inggris Nusantara, yang secara politis kira-kira ingin menyaingi kekuasaan Belanda dan VOC sebagai mesin ekonominya.

Tapi Pemerintah Inggris menentang. Maka, Raffles pun mulai melirik Singapura.

Padahal Raffles, bersama koleganya Arnold, menemukan bunga parasit tak berakar yang diameter kembangnya terbesar di dunia. Namanya Rafflesia Arnoldi.

Tapi rupanya Pemerintah Inggris tak mengganggap prestasi Raffles sebagai penemu bunga bangkai terbesar di dunia itu berkaitan dengan tugasnya sebagai pemimpin pemerintahan. Hmmm, ilustrasi bagus buat calon anggota legislatif nih.

Kemudian, usai Traktat London pada 1824, Belanda menyerahkan Singapura kepada Inggris. Konsekuensinya, seluruh orang Inggris yang tadinya berada di Bengkulu angkat kaki, dan diganti oleh orang-orang Belanda beserta VOC sebagai penghelanya.

Kisah selanjutnya bisa sedikit terbaca, karena Raffles lantas sukses dengan “proyek” Singapura yang kini bolehlah disebut sebagai salah satu “adidaya” Asia. Bengkulu, yang secara geografis disebut relatif terpencil dibandingkan dengan wilayah lain di Pulau Sumatera, kemudian dipeluk oleh kekuasaan Belanda (1825-1942).

Kurang lebih 150 tahun orang-orang Inggris berada di Bengkulu hingga 1825. Peninggalan orang-orang Inggris selama sekitar 150 tahun di Bengkulu banyak ragamnya.

Sekalipun tak melulu harmonis hubungannya dengan penduduk setempat karena Kapten Hamilton tewas oleh rakyat pada akhir abad XVIII . Lalu Residen Thomas Parr yang meregang nyawa pada 1805 setelah dibunuh dan meninggalkan sebuah monumen indah di sebuah simpang Kota Bengkulu hingga kini.

Sejumlah peninggalan orang-orang Inggris selama sekitar 150 tahun di Bengkulu itu berkisar pada sejumlah aspek hidup.

Dari khazanah arsitektur ada Benteng Marlborough di Kota Bengkulu, yang kerap jadi tempat saya nongkrong melepas penat sembari bengong menatap laut lepas. Benteng dengan pondasi kokoh ini tak pula bergeming oleh hantaman gempa dahsyat berkekuatan 7,3 skala Richter pada 4 Juni 2000 lalu.

Pada perbendaharaan bahasa, sejumlah kata punya lafal yang nyerempet pengucapan dalam Bahasa Inggris. Sebutlah seperti “poket” untuk kantong, “jel” untuk penjara, "bol" untuk bola, "trai" untuk mencoba, dsb.


dikutip dari journalist blog network - kompasiana

Puspa Langka Bengkulu - Bungei (Bunga) Kibut

Puspa Langka Bengkulu - Bungei (Bunga) Kibut
Selain Bunga Rafflesia Arnoldi


foto by Balaputradewa
Banyak ditemukan di sepanjang jalan Kepahiang - Curup


foto by Balaputradewa
Sebelum mekar..


foto by Rajorio Redjang
Sesudah mekar..


foto by Alekmuhibat


foto by Alekmuhibat

Akhirnya sampai di Jakarta, abadi mendampingi Emas Monas yang juga berasal dari Bengkulu

Memandang Alam dari Atas Bukit - Kabupaten Bengkulu Tengah

Memandang Alam dari Atas Bukit - Kabupaten Bengkulu Tengah